PERKEMBANGAN
ASTRONOMI MASA KINI
Perkembangan astronomi pada zaman modern sudah sangat
pesat sekali. Ssebagai bukti pesatnya perkambangan astronomi adalah banyaknya
penemuan-penemuan benda-benda luar angkasa seperti halnya planet-planet baru
dan galaksi-galaksi baru. Dengan adanya peralatan yang canggih yang telah
diciptakan para ilmuan khususunya ilmuan barat sangat mendukung perkembangan
ilmu astronomi. Seperti halnya satelit-satelit NASA yang diterbangkan ke luar
angkasa sangatlah mendukung untuk pengamatan fenomena luar angkasa.
Para pakar astronomi pada zaman sekarang sudah mulai meneliti keadaan planet-planet luar angkasa dengan menerbangkan beberapa astronot untuk melakukan obserfasi ke planet-planet sebagai salah satu contohnya adalah planet mars. Planet merah (Mars) merupakan planet yang mendapatkan konsentrasi penuh dari para astronom. Bahkan mereka sampai membuat sebuah robot yang mampu menelusuri dataran Mars. Nasa Phoenix berhasil mendarat di Mars pada bulan Mei lalu. Dari sinilah diketahui bahwa planet Mars mampu dihidupi oleh manusia karena terdapat sumber air di dalamnya.
Para pakar astronomi pada zaman sekarang sudah mulai meneliti keadaan planet-planet luar angkasa dengan menerbangkan beberapa astronot untuk melakukan obserfasi ke planet-planet sebagai salah satu contohnya adalah planet mars. Planet merah (Mars) merupakan planet yang mendapatkan konsentrasi penuh dari para astronom. Bahkan mereka sampai membuat sebuah robot yang mampu menelusuri dataran Mars. Nasa Phoenix berhasil mendarat di Mars pada bulan Mei lalu. Dari sinilah diketahui bahwa planet Mars mampu dihidupi oleh manusia karena terdapat sumber air di dalamnya.
Perkembangan
Ilmu Astronomi Di Indonesia
Sejarah telah mencatat, geliat penerapan astronomi di
kepulauan Nusantara telah ada sejak beberapa abad silam. Penanggalan kalender
jawa, penentuan musim hujan, kemarau, panen, dan ritual kepercayaan lain yang
menggunakan peredaran gerak benda langit sebagai acuan. Bahkan, mengutip sebuah
lagu “nenek moyangku seorang pelaut”, mereka pun mahir menggunakan rasi-rasi
bintang sebagai penunjuk arah.
Zaman beranjak ke masa kerajaan Hindu-Budha, dimana
candi-candi dibangun berdasarkan letak astronomis. Candi-candi di daerah Jawa
Tengah dibangun dengan menghadap ke arah terbitnya Matahari, timur. Sedangkan
bangunan candi di Jawa Timur, menghadap ke barat, dimana Matahari terbenam.
Meski begitu, ada sedikit perbedaan dengan candi kebesaran rakyat Indonesia,
Candi Borobudur, yang dibangun menghadap ke arah utara-selatan tepat pada sumbu
rotasi Bumi. Gunadharma, yang membangun Candi Borobudur memakai patokan bintang
polaris yang pada masa dinasti Syailendra masih terlihat dari Pulau Jawa
Mulai abad ke 18, perjalanan Astronomi Indonesia telah
beranjak ke arah yang lebih empiris. Pada masa itu, masyarakat dunia belum tahu
jarak Bumi-Matahari. Halley, yang telah menemukan cara untuk menentukan
paralaks Matahari, membutuhkan pengamatan di tempat yang berbeda-beda. Dengan menggunakan
hukum Kepler, ia telah menghitung akan terjadinya transit Venus pada tahun 1761
dan 1769. Dan pengamatan fenomenal itu dilakukan di Batavia (Jakarta), di
sebuah Planetarium pribadi milik John Mauritz Mohr, seorang pendeta Belanda
kelahiran Jerman. Selain Mohr, Astronom Perancis De Bougainvile juga melakukan
pengamatan transit Venus pada tahun 1769. Dari hasil pengamatan diperoleh
gambaran transit Venus yang kemudian dipublikasikan dalam Philosophical
Transaction.
Tahun 1920, berdirilah Nederlandch Indische
Sterrenkundige Vereeniging (Perhimpunan Ilmu Astronomi Hindia Belanda) yang
dipelopori oleh Karel Alber Rudolf Bosscha. Yang mencetuskan didirikannya
sebuah observatorium untuk memajukan ilmu astronomi di Hindia Belanda. Butuh
usaha yang tidak mudah untuk mendirikan observatorium yang sekarang terletak di
daerah Lembang, arah utara Kota Bandung itu. Mulai dari penelitian lokasi yang
tepat untuk pengamatan, hingga perjalanan teleskop “Meredian Circle” dan “Carl
Zeiss Jena”. Pembangunan Observatorium dimulai pada tahun 1922 di atas tanah
pemberian kakak beradik “Ursone” seluas 6 hektar. Hingga akhirnya teleskop
besar Zeiss mulai berfungsi pada tahun 1928. Beberapa bulan setelah instalasi
teleskop, K.A.R. Bosscha meninggal, dan observatorium itu dinamai Observatorium
Bosscha.
Kini, observatorium bersejarah itu sudah berusia
hampir 80 tahun. Di usianya yang mulai senja, Observatorium Bosscha telah
menorehkan banyak catatan ke-astronomian. Sebagai contoh, penemuan planetary
nebula di daerah langit selatan, 50% ditemukan di observatorium milik Indonesia
ini. Ditambah dengan pengamatan-pengamatan lain seperti gerhana Matahari total
pada tahun 1930, dimana Einstein duduk dalam komitenya untuk membuktikan Teori
Relativitas Umum Einstein. Dan keikutsertaan Observatorium Bosscha dalam
pendidikan ilmu pengetahuan alam, dengan mengadakan jurusan Astonomi di ITB
pada tahun 1959.
Minat masyarakat terhadap ilmu yang menjadi “anak
tiri” di Indonesia ini telah meningkat selama beberapa tahun terakhir. Melihat
antusiasnya masyarakat dan media ketika terjadi fenomena langit yang jarang
terjadi seperti saat melintasnya komet Halley (1986), oposisi Mars (2003),
transit Venus (2004), dan lainnya. Juga dengan terbentuknya
perkumpulan-perkumpulan pecinta Astronomi yang mulai marak. Dan beberapa media
di dunia maya mulai dari millis, website, forum diskusi dan banyak blog yang
berisikan info-info Astronomi.
Secara Internasional, astronomi di Indonesia pun sudah
‘cukup dipandang’. Terbukti dengan dipercayanya Indonesia menjadi tuan rumah
APRIM, ajang berkumpulnya para astronom dunia, pada tahun 2005 silam, juga
sebagai tuan rumah olimpiade Astronomi Internasional tahun 2008 mendatang.
Belum lagi banyaknya siswa yang membawa pulang medali ke tanah air, hasil dari
pertarungan mereka dalam Olimpiade Astronomi Internasional maupun Olimpiade
Astronomi Asia Pasific. Kini, setelah melihat perkembangan ilmu Astronomi yang
cukup pesat, akankah pemerintah lebih memperhatikan perkembangan ilmu alam ini?
Seperti sudah menjadi hal umum jika ilmu alam kurang diperhatikan di negara
tercinta ini. Padahal, sangatlah penting untuk membuka kesadaran sains di mata
masyarakat Indonesia. Agar menjadi masyarakat yang cinta ilmu, yang bisa banyak
membaca dari alam sekitarnya, dari tingginya langit hingga dalamnya lautan.
Kita bisa mencotoh negara-negara maju seperti Badan
Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) ataupun Badan Antariksa Eropa (ESA),
yang menyiapkan divisi khusus untuk pelayanan informasi Astronomi bagi publik.
Mulai dari informasi informal hingga terprogram seperti pelatihan guru sekolah
dan bantuan implementasi kurikulum ilmu pengetahuan alam. Memasukkan astronomi
dalam kurikulum pelajaran siswa sekolah, mengapa tidak?
Indonesia, yang terbentang dari Sabang sampai Merauke
hanya memiliki sedikit sekali fasilitas astronomi. Hampir semua kegiatan
astronomi terpusat di Observatorium Bosscha dan Planetarium Jakarta. Ide
pembuatan observatorium di daerah-daerah terpencil sudah ada sejak dulu. Yang
sudah mulai berjalan seperti Planetarium di Palembang dan Tenggarong,
Kalimantan. Juga adanya rencana menjadikan Pulau Biak sebagai tempat peluncuran
satelit. Para pecinta Astronomi dan masyarakat Indonesia pada umumnya, memiliki
mimpi agar dapat dibangun lagi observatorium-observatroium di daerah-daerah ataupun
pulau-pulau terpencil lainnya. Selain belum banyak terjamah manusia, hingga
tingkat polusinya kecil dan memungkinkan untuk melihat langit sangat cerah,
pembangunan fasilitas astronomi itu juga menjadi sebuah ajang penyebaran
pendidikan sains yang tentunya dapat mengurangi tingkat kebodohan masyarakat
Indonesia.
Pemerintah Indonesia dan para pecinta Astronomi dapat
bekerja sama dalam menyebarkan ilmu astronomi. Dengan tersedianya fasilitas
media yang cukup banyak, keinginan adanya majalah atau tabloid astronomi
tentunya mimpi yang harus diwujudkan. Kesediaan pemerintah untuk menyokong dana
riset ataupun kegiatan keilmuan ini juga sangatlah diharapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar